Jasad Mulia dua Sahabat Nabi SAW yang masih utuh setelah dikubur 1.300 tahun lalu
Jasad Mulia dua Sahabat Nabi SAW utuh setelah dikubur 1.300 tahun lalu - Sudah menjadi hukum alam bahwa bila mayat sudah dikubur pasti akan segera mengalami proses pembusukan dan penguraian apalagi mayat yang sudah dikubur dalam waktu yang sangat lama. Namun, dengan Kuasa Allah, kita bisa temui banyak fakta dan bukti yang sangat kuat bahwa mayat atau jenazah para Syuhada (Orang Yang Mati Syahid /Martir), para Nabi, dan orang-orang suci (Waliyullah) itu tetap segar bugar dan tidak mengalami proses pembusukan ketika kuburan mereka itu digali kembali. Salah satunya adalah peristiwa yang sangat luar biasa ini, yang sempat menghentak publik dunia terutama penduduk di kawasan Timur Tengah.
Pada tahun 1932 (bertepatan dengan tahun 1351 H), Raja Iraq yang bernama Shah Faisal I bermimpi dimana dalam mimpinya ia ditegur oleh Huzaifah Al-Yamani (salah seorang sahabat Nabi SAW) yang berkata:
“ Wahai Raja ! Ambillah jenazahku dan jenazah Jabir Al-Ansari (juga salah seorang sahabat Nabi SAW) dari tepian sungai Tigris dan kemudian kuburkan kembali di tempat yang aman karena kuburanku sekarang dipenuhi oleh air; kuburan Jabir juga sedang dipenuhi oleh air.”
Mimpi yang sama terjadi berulang-ulang pada malam-malam berikutnya akan tetapi Raja Faisal I tidak peduli dengan mimpi itu karena ia merasa ada hal-hal lain yang jauh lebih penting dalam kehidupannya yang berupa urusan-urusan kenegaraan. Pada malam ketiga Huzaifah Al-Yamani hadir dalam mimpi Mufti Besar Iraq. Huzaifah Al-Yamani berkata dalam mimpi sang Mufti itu:
“ Aku telah memberitahukan Raja dua malam sebelumnya untuk memindahkan jenazahku akan tetapi tampaknya ia tidak peduli. Beritahukanlah kepada Raja agar ia mau sedikit berempati untuk memindahkan kuburan-kuburan kami.”
Jasad Mulia dua Sahabat Nabi SAW utuh setelah dikubur 1.300 tahun lalu - Sudah menjadi hukum alam bahwa bila mayat sudah dikubur pasti akan segera mengalami proses pembusukan dan penguraian apalagi mayat yang sudah dikubur dalam waktu yang sangat lama. Namun, dengan Kuasa Allah, kita bisa temui banyak fakta dan bukti yang sangat kuat bahwa mayat atau jenazah para Syuhada (Orang Yang Mati Syahid /Martir), para Nabi, dan orang-orang suci (Waliyullah) itu tetap segar bugar dan tidak mengalami proses pembusukan ketika kuburan mereka itu digali kembali. Salah satunya adalah peristiwa yang sangat luar biasa ini, yang sempat menghentak publik dunia terutama penduduk di kawasan Timur Tengah.
Pada tahun 1932 (bertepatan dengan tahun 1351 H), Raja Iraq yang bernama Shah Faisal I bermimpi dimana dalam mimpinya ia ditegur oleh Huzaifah Al-Yamani (salah seorang sahabat Nabi SAW) yang berkata:
“ Wahai Raja ! Ambillah jenazahku dan jenazah Jabir Al-Ansari (juga salah seorang sahabat Nabi SAW) dari tepian sungai Tigris dan kemudian kuburkan kembali di tempat yang aman karena kuburanku sekarang dipenuhi oleh air; kuburan Jabir juga sedang dipenuhi oleh air.”
Mimpi yang sama terjadi berulang-ulang pada malam-malam berikutnya akan tetapi Raja Faisal I tidak peduli dengan mimpi itu karena ia merasa ada hal-hal lain yang jauh lebih penting dalam kehidupannya yang berupa urusan-urusan kenegaraan. Pada malam ketiga Huzaifah Al-Yamani hadir dalam mimpi Mufti Besar Iraq. Huzaifah Al-Yamani berkata dalam mimpi sang Mufti itu:
“ Aku telah memberitahukan Raja dua malam sebelumnya untuk memindahkan jenazahku akan tetapi tampaknya ia tidak peduli. Beritahukanlah kepada Raja agar ia mau sedikit berempati untuk memindahkan kuburan-kuburan kami.”
Lalu setelah mendiskusikan masalah ini, Raja Faisal disertai oleh Perdana Menteri dan Mufti Besar bermaksud untuk melaksanakan tugas ini. Diputuskanlah bahwa Mufti Besar akan memberikan fatwa mengenai hal ini dan Perdana Menteri akan menyampaikan pernyataan pers supaya semua orang tahu tentang rencana besar ini. Kemudian diumumkanlah kepada publik bahwa rencana ini akan dilangsungkan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat Dzhuhur dan Ashar. Kuburan kedua sahabat Nabi itu akan dibuka dan jenazahnya akan dipindahkan ke tempat lain.
Karena pada waktu itu sedang musim Haji, maka para jamaah haji yang sedang berkumpul di kota Makkah. Mereka meminta Raja Faisal I untuk menunda rencana itu selama beberapa hari agar mereka juga bisa turut menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses ekskavasi dari kedua tubuh sahabat Nabi itu. Mereka ingin agar proses ekskavasi itu ditunda hingga mereka selesai beribadah haji. Akhirnya Raja Faisal setuju untuk menangguhkannya dan mengundurkannya hingga tanggal 20 Dzulhijjah.
Setelah shalat Dzhuhur dan Ashar, pada tanggal 20 Dzulhijjah tahun 1351 (Hijriah) bertepatan dengan tahun 1932 Masehi, orang-orang berdatangan ke kota Baghdad. Dan yang datang ketika itu bukan hanya kaum Muslimin melainkan juga dihadiri oleh banyak Non-Muslim. Mereka berkumpul di kota Baghdad hingga penuh sesak. Ketika kuburan Hudzaifah Al-Yamani dibuka segera mereka melihat bahwa kuburan itu dipenuhi air di dalamnya. Tubuh Hudzaifah Al-Yamani diangkat dengan menggunakan katrol dengan sangat hati-hati agar tidak rusak dan kemudian jenazah yang tampak masih sangat segar itu dibaringkan di sebuah tandu. Kemudian Raja Faisal beserta Mufti Besar, Perdana Menteri dan Pangeran Faruq dari Mesir mendapatkan kehormatan untuk mengangkat tandu itu bersama-sama dan kemudian meletakkan jenazah segar itu ke sebuah peti mati dari kaca yang dibuat khusus untuk menyimpan jenazah-jenazah itu. Selanjutnya tubuh Jabir bin Abdullah Al-Ansari juga dipindahkan ke peti mati dari kaca yang sama dengan cara yang sama hati-hatinya dan dengan segenap penghormatan.
Karena pada waktu itu sedang musim Haji, maka para jamaah haji yang sedang berkumpul di kota Makkah. Mereka meminta Raja Faisal I untuk menunda rencana itu selama beberapa hari agar mereka juga bisa turut menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses ekskavasi dari kedua tubuh sahabat Nabi itu. Mereka ingin agar proses ekskavasi itu ditunda hingga mereka selesai beribadah haji. Akhirnya Raja Faisal setuju untuk menangguhkannya dan mengundurkannya hingga tanggal 20 Dzulhijjah.
Setelah shalat Dzhuhur dan Ashar, pada tanggal 20 Dzulhijjah tahun 1351 (Hijriah) bertepatan dengan tahun 1932 Masehi, orang-orang berdatangan ke kota Baghdad. Dan yang datang ketika itu bukan hanya kaum Muslimin melainkan juga dihadiri oleh banyak Non-Muslim. Mereka berkumpul di kota Baghdad hingga penuh sesak. Ketika kuburan Hudzaifah Al-Yamani dibuka segera mereka melihat bahwa kuburan itu dipenuhi air di dalamnya. Tubuh Hudzaifah Al-Yamani diangkat dengan menggunakan katrol dengan sangat hati-hati agar tidak rusak dan kemudian jenazah yang tampak masih sangat segar itu dibaringkan di sebuah tandu. Kemudian Raja Faisal beserta Mufti Besar, Perdana Menteri dan Pangeran Faruq dari Mesir mendapatkan kehormatan untuk mengangkat tandu itu bersama-sama dan kemudian meletakkan jenazah segar itu ke sebuah peti mati dari kaca yang dibuat khusus untuk menyimpan jenazah-jenazah itu. Selanjutnya tubuh Jabir bin Abdullah Al-Ansari juga dipindahkan ke peti mati dari kaca yang sama dengan cara yang sama hati-hatinya dan dengan segenap penghormatan.
Prosesi Pemindahan Jenazah Dua Sahabat Nabi Yang Mulia
Hudzaifah Al-Yamani pernah ditunjuk sebagai gubernur kota Madain (sebuah tempat di dekat kota Baghdad, Iraq) pada masa Umar bin Khattab dan ia tetap menjalankan tugasnya hingga Imam Ali bin Abi Thalib ditunjuk umat untuk menjadi Khalifah.Imam Ali mengirimkan sepucuk surat kepada para penduduk kota Madain memberitahu mereka bahwa sekarang yang menjadi khalifah adalah Imam Ali sekaligus mengukuhkan posisi Hudzaifah sebagai gubernur kota Madain untuk melanjutkan tugasnya di sana. Hudzaifah Al-Yamani meninggal dunia sebelum terjadi Perang Jamal (perang saudara antara para sahabat Nabi dalam dua kubu yaitu kubu Imam Ali bin Abi Thalib di satu sisi; dan kubu ‘Aisyah binti Abu Bakar di sisi lainnya) pada tahun 36 H. Hudzaifah Al-Yamani dikebumikan di kota Madain.
JABIR BIN ABDULLAH AL-ANSARI (RA): Jabir bin Abdullah Al-Ansari (RA) juga adalah seorang sahabat Nabi yang utama dan mulia diantara para sahabat Nabi lainnya. Jabir bin Abdullah Al-Ansari selalu berada di front terdepan dalam kurang lebih 18 peperangan yang ia ikuti untuk membela Islam. Jabir bin Abdullah Al-Ansari diberkahi umur yang cukup panjang sehingga ia masih hidup pada zaman Cicit Rasulullah saww Imam Muhammad Al-Baqir dan puteranya yaitu Imam Ja’far As-Sadiq.
Tentang Jabir, Imam Ja’far As-Sadiq pernah berkata: “Jabir bin Abdullah Al-Ansari adalah sahabat Rasulullah satu-satunya yang tersisa”
Jabir bin Abdullah Al-Ansari demi mendengar bahwa Imam Husein (Cucu Rasulullah saww) telah syahid dibantai oleh tentara Yazid; sementara para sahabat serta keluarganya yang tersisa sedang dipermalukan, ditawan dan diarak di jalanan; segera saja Jabir—yang sudah sangat renta—bergegas menuju Karbala dengan sepasukan kecil terdiri dari para sahabatnya dan pengikutnya yang setia. Sesampainya di sana Jabir hanya menemukan potongan-potongan tubuh keluarga suci Rasulullah beserta para pengikut setianya berserakan berlumuran darah. Jabir jugalah (beserta pasukan kecilnya) yang memunguti potongan tubuh itu satu persatu dan menguburkan potongan jenazah para syuhada itu di sana. Jabir bin Abdullah Al-Ansari jugalah yang menjadi orang pertama yang berziarah di pemakaman Karbala dimana Para Syuhada Karbala dikebumikan dan ia jugalah yang sebelumnya melangsungkan upacara penguburan atasnya.
Diriwayatkan bahwa dulu Rasulullah saww pernah berwasiat kepada Jabir bin Abdullah Al-Ansari bahwa ia akan hidup lama dan berusia panjang hingga akhirnya ia bisa menemui seorang Cicit Rasulullah saww yang bernama Muhammad Al-Baqir yang rupanya (wajahnya) dan akhlaknya sangat mirip dengan Rasulullah. Rasulullah meminta kepada Jabir bin Abdullah Al-Ansari untuk menyampaikan salamnya (pada cicitnya itu).
Sepanjang hidupnya Jabir bin Abdullah Al-Ansari tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan Imam Muhammad Al-Baqir. Hingga akhirnya hari yang dinantikan itu datang juga. Ketika bertemu dengan orang yang dimaksud, Jabir sangat gembira dan memeluk erat sang Imam sambil mengatakan bahwa Rasulullah telah menitipkan salam untuk sang Imam.
Jabir bin Abdullah Al-Ansari tidak berusia lama lagi setelah pertemuan dengan Imam Muhammad Al-Baqir itu. Ia sempat ditawan oleh Hajjaj bin Yusuf dan diriwayatkan bahwa timah cair yang panas sekali disiramkan ke atas kedua tangan sucinya oleh penguasa kejam bernama Hajjaj bin Yusuf itu. Jabir bin Abdullah Al-Ansari meninggal pada usia 94 tahun dan dikebumikan di kota Madain.
Marilah kita sampaikan bacaan Al-Fathihah untuk mereka berdua; kedua murid cerdas dari baginda Rasulullah yang mulia. Marilah kita mengingat selalu setiap sumbangsih dan jasanya terhadap Islam dan do’akan mereka yang terbaik dan sekaligus memohon kepada Allah agar kita bisa diberikan kekuatan untuk mengikuti jejak langkah keduanya dalam membela Islam yang benar.
JABIR BIN ABDULLAH AL-ANSARI (RA): Jabir bin Abdullah Al-Ansari (RA) juga adalah seorang sahabat Nabi yang utama dan mulia diantara para sahabat Nabi lainnya. Jabir bin Abdullah Al-Ansari selalu berada di front terdepan dalam kurang lebih 18 peperangan yang ia ikuti untuk membela Islam. Jabir bin Abdullah Al-Ansari diberkahi umur yang cukup panjang sehingga ia masih hidup pada zaman Cicit Rasulullah saww Imam Muhammad Al-Baqir dan puteranya yaitu Imam Ja’far As-Sadiq.
Tentang Jabir, Imam Ja’far As-Sadiq pernah berkata: “Jabir bin Abdullah Al-Ansari adalah sahabat Rasulullah satu-satunya yang tersisa”
Jabir bin Abdullah Al-Ansari demi mendengar bahwa Imam Husein (Cucu Rasulullah saww) telah syahid dibantai oleh tentara Yazid; sementara para sahabat serta keluarganya yang tersisa sedang dipermalukan, ditawan dan diarak di jalanan; segera saja Jabir—yang sudah sangat renta—bergegas menuju Karbala dengan sepasukan kecil terdiri dari para sahabatnya dan pengikutnya yang setia. Sesampainya di sana Jabir hanya menemukan potongan-potongan tubuh keluarga suci Rasulullah beserta para pengikut setianya berserakan berlumuran darah. Jabir jugalah (beserta pasukan kecilnya) yang memunguti potongan tubuh itu satu persatu dan menguburkan potongan jenazah para syuhada itu di sana. Jabir bin Abdullah Al-Ansari jugalah yang menjadi orang pertama yang berziarah di pemakaman Karbala dimana Para Syuhada Karbala dikebumikan dan ia jugalah yang sebelumnya melangsungkan upacara penguburan atasnya.
Diriwayatkan bahwa dulu Rasulullah saww pernah berwasiat kepada Jabir bin Abdullah Al-Ansari bahwa ia akan hidup lama dan berusia panjang hingga akhirnya ia bisa menemui seorang Cicit Rasulullah saww yang bernama Muhammad Al-Baqir yang rupanya (wajahnya) dan akhlaknya sangat mirip dengan Rasulullah. Rasulullah meminta kepada Jabir bin Abdullah Al-Ansari untuk menyampaikan salamnya (pada cicitnya itu).
Sepanjang hidupnya Jabir bin Abdullah Al-Ansari tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan Imam Muhammad Al-Baqir. Hingga akhirnya hari yang dinantikan itu datang juga. Ketika bertemu dengan orang yang dimaksud, Jabir sangat gembira dan memeluk erat sang Imam sambil mengatakan bahwa Rasulullah telah menitipkan salam untuk sang Imam.
Jabir bin Abdullah Al-Ansari tidak berusia lama lagi setelah pertemuan dengan Imam Muhammad Al-Baqir itu. Ia sempat ditawan oleh Hajjaj bin Yusuf dan diriwayatkan bahwa timah cair yang panas sekali disiramkan ke atas kedua tangan sucinya oleh penguasa kejam bernama Hajjaj bin Yusuf itu. Jabir bin Abdullah Al-Ansari meninggal pada usia 94 tahun dan dikebumikan di kota Madain.
Marilah kita sampaikan bacaan Al-Fathihah untuk mereka berdua; kedua murid cerdas dari baginda Rasulullah yang mulia. Marilah kita mengingat selalu setiap sumbangsih dan jasanya terhadap Islam dan do’akan mereka yang terbaik dan sekaligus memohon kepada Allah agar kita bisa diberikan kekuatan untuk mengikuti jejak langkah keduanya dalam membela Islam yang benar.
0 komentar:
Posting Komentar